podcast.dokterpintar@gmail.com

+6289656516562

Episode 1: Sekolah dokter lama banget, yakin minat? Angkatan 2020, siap-siap!

0 Comments

Hai, karena lagi ramai ucapan selamat untuk angkatan 2020, ada satu yang menjadi pertanyaan tentu, yang pertama, selamat kepada teman-teman yang baru lulus smp, sma, sd, kuliah di tahun ini dengan kondisi pandemi, dengan kalian lulus tanpa ada seremoni yang seharusnya kalian dapatkan, be sure though untuk kalian, pertanyaannya adalah “what’s next?”. Podcast kali ini saya tujukan khusus untuk teman-teman yang baru lulus sma (sekolah menengah atas), apakah ada diantara kalian yang ingin menjadi dokter?

Kita semua sadar bahwa profesi dokter adalah salah satu cita-cita yang sangat umum, bahkan anak kecil pun kalau ditanya banyak pasti yang menjawab kalau tidak dokter, polisi, astronot dan lain sebagainya. Dokter menjadi profesi yang paling diinginkan. Tidak hanya itu, fakultas kedokteran, kalau teman-teman sadar, merupakan salah satu fakultas yang passing gradenya paling tinggi diantara fakultas-fakultas yang lain dimanapun itu kampusnya, entah itu tertinggi nomor 1 atau nomor 2, setidaknya masuknya saja sulit, entah itu di perguruan tinggi negeri, atau pun di perguruan tinggi swasta. 

Sebelum teman-teman memutuskan ingin menjadi dokter atau sudah ada niatan ingin menjadi dokter, saya mau cerita sedikit tentang bagaimana perkembangan sekolah kedokteran, inget ya, jadi dokter tu sekolah bukan kuliah, ngg ada yang bilang medical university itu ngg ada, yang ada medical school, dari jaman dulu ketika negara kita waktu itu masih dalam kependudukan Belanda (Hindia Belanda) dikenal dengan STOVIA, itu adalah sekolah untuk calon-calon dokter pertama yang disediakan oleh pemerintah Belanda pada waktu itu, termasuk pribumi Indonesia untuk belajar dan lulus menjadi dokter, ahli farmasi atau sekedar mantri. Setelah perang dunia I Belanda digantikan dengan Jepang, kemudian Jepang menjajah kita selama 3,5 tahun, sekolah kedokteran tetap berlanjut dengan namanya diganti dengan bahasa Jepang ketika itu, nice to know lah ya, kita ngga perlu tahu detailnya, hingga akhirnya kita merdeka tahun 1945, dan di tahun 1946 disahkanlah pertama kali Universitas Indonesia yaitu almamater saya.

Suatu kebanggaan saya menceritakan cerita ini karena kedokteran di Indonesia dimulai dengan kampus tertua di negeri ini dan diikuti 3 tahun setelahnya pada tahun 1949 di Universitas Gajah Mada. Sebelum kita merdeka, lama sekolah untuk jadi dokter itu kurang lebih 10 tahun, dimulai dengan 3 tahun pengenalan dan 7 tahun pendidikan kedokteran. Kemudian lambat laun fase untuk pengenalannya dihapus sehingga hanya butuh waktu 7 tahun dan itu berlangsung hingga 50 tahun kita merdeka dan di tahun 1995 dimulai di FKUI untuk mengubah kurikulum menjadi kurikulum yang terintegrasi dan bersifat aktif dari mahasiswa, jika selama ini hanya lecture based, hanya berdasarkan kuliah satu arah dan kita diwajibkan untuk rotasi di semua departemen, satu tahun pertama Premed (dulu ada Premed), kemudian 2 tahun kedua ada Preklinik, 2 tahun berikutnya Klinik dan 2 tahun berikutnya internship.

Nah, selama 50 tahun itu tidak ada kewajiban seseorang untuk lulus jadi dokter itu harus mengikuti ujian nasional dulu yang kita kenal sekarang dengan Ujian Kompetensi Nasional Dokter Indonesia yang namanya berganti hingga saat ini apapun itu, disaat itu, disamping lulus internship mendapatkan predikat memuaskan, sudah boleh menjadi dokter. Dan memang kebutuhannya ketika itu sangat banyak dengan jumlah populasi kita semakin bertambah, jumlah provinsi semakin banyak yang bermekaran, sehingga disaat itu mulailah muncul kebijakan-kebijakan pemerintah untuk wajib PTT, wajib kerja sarjana (WKS) ketika itu hingga berubah pemerintahan ganti lagi kewajibannya ada kadang PTT nya tidak wajib tapi menjadi syarat untuk bisa praktek atau mendaftar menjadi dokter spesialis untuk lanjut sekolah lagi dsb. Namun, ditahun 1995 perubahan kurikulum ini hanya berlangsung selama 3 semester, beberapa catatan menceritakan hingga tahun 1997 ketika itu, entah ini berhubungan atau tidak dengan kejadian 1997, ketika kita mengalami reformasi tapi kurikulum balik lagi menjadi kurikulum yang lama yaitu kurikulum berbasis kuliah (departemental). 

Setelah beberapa tahun, kemudian di tahun 2000 FKUI mendapatkan hibah untuk melakukan perombakan sistem pendidikan kedokteran, dan ditahun 2005 pertama kali disahkan kurikulum terintegrasi berbasis kompetensi. Nah, di tahun ini lah kakak-kakak kelas saya yang saat itu baru masuk mendapatkan bentuk pendidikan yang beda, jadi dosen itu yang awalnya diwajibkan harus sebagai guru mengajarkan segala hal namun berubah fungsi menjadi fasilitator, sehingga mahasiswa lebih banyak aktif mencari informasi dan menkonfirmasi atau berdiskusi lebih banyak tentang informasi yang sudah didapatkan sebelumnya dengan si fasilitator tersebut.

Ketika tahun 2005 ini hanya butuh 5 tahun untuk kita dapat gelar dokter, tapi di tahun 2010, mulailah dilakukan Ujian Kompetensi Dokter Indonesia untuk menyamaratakan kompetensi atau kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh lulusan dokter, entah itu lulusan dokter negeri ataupun lulusan dokter dari perguruan tinggi swasta. Ketika itu tahun 2010 pertama kali diujiankan, ujiannya dalam bentuk tertulis dan sudah lulus ketika itu, mulailah ditahun kalau tidak salah (sorry saya akan update di episode berikutnya), beberapa tahun setelah itu dibuatlah undang-undang pendidikan kedokteran dan diwajibkan program internship.

Program internship ini sebetulnya bukan pertama kali, kita kan tadi sudah cerita bahwa dulunya sebetulnya ketika jadi dokter itu butuh waktu 7 tahun, internship sudah wajib juga, hanya saat itu belum ada ujian. Jadi kalau sekarang setelah ujian, lulus (sekarang ujiannya ada ujian praktek juga, ujian OSCE) kemudian harus internship selama minimal 1 tahun, sorry selama 1 tahun. Selama 1 tahun teman-teman akan mendapatkan surat tanda registrasi sebagai dokter internship yang nantinya bisa ditukar dengan STR tetap ketika menyelesaikan program internship. Ada hal menarik, antara tahun 2010 hingga tahun 2020 saat ini jumlah dokter meningkat, dari hanya sekitar 30000-an menjadi 180000-an, itu dokter ya, bukan dokter umum atau dokter spesialis. Yaa, peningkatan 6 hingga 7 kali lipat dan peningkatan ini merupakan peningkatan yang sangat drastis semenjak kita merdeka.

Lantas, pemasalahan yang muncul dari jumlah dokter semakin banyak, ya positifnya distribusinya rata walaupun itu tidak bias kita samakan dengan tempat-tempat atau daerah urban dibandingkan dengan daerah rural, dibandingkan dengan Jakarta dan luar Jakarta sangatlah berbeda, jumlah okupasi lebih banyak dan laju industri juga berbeda, tapi yang kita lihat di tahun ini saja setidaknya rata-rata 1 dokter itu mengcover 1400-1500 populasi. Namun, jangan salah, angka ini justru belum cukup kalau kita mengacu dengan parameternya WHO, karena WHO merekomendasikan setidaknya untuk 1000 populasi adalah satu dokter, artinya kita masih kekurangan setengahnya. 

Shout out untuk semua perguruan tinggi atau semua pemerintah yang telah bersusah payah untuk meningkatkan jumlah lulusan dokter ini, tapi pertanyaannya adalah ke diri kamu masing-masing. Ketika seorang dokter, masuk nih, jalani pendidikan, masuknya susah, selama sekolah juga susah, untuk beberapa orang yang memang passionnya disana, memang punya niat lulus menjadi dokter untuk pengabdian, untuk memberikan kebaikan ke pasien dan segala macam, saya rasa itu sangat gampang, tapi ketika kamu masuk dokter karena saran orang tua, karena ada background dari keluarga sebelumnya memang adalah keluarga dokter sementara kamu tidak ada passionnya disana, ketika lulus, ketika kuliah ogah-ogahan, ketika sudah lulus pun bingung mau ngapain, dan ini sangat banyak terjadi karena jumlah lulusan dokter semakin banyak dan untuk internship semakin lama antrinya karena sistem internship itu antrian karena jumlah faskes (fasilitas kesehatan) yang menampung sebagai wahana untuk dokter-dokter internship juga terbatas, jadi mau ngg mau ada dokter yang nganggur.

Kalau dibandingkan dengan teman-temanmu yang ngambil jurusan lain, 4 tahun/3,5 tahun mereka sudah bisa kerja udah dapat gaji pertama sebagai fresh graduate, walaupun ada juga yang nganggur dong pasti, tapi untuk kamu mendapatkan di titik itu, di titik yang sama dengan temanmu yang mengambil jurusan lain, itu butuh waktu yang lebih lama.

So, dari sekarang saya bilang, pikir-pikir dulu, kalau memang tekatmu ingin menjadi dokter atau ingin memperbaiki sistem kesehatan di negara ini, please daftarlah jadi dokter, negara ini masih butuh, apalagi ketika terjadi outbreak seperti ini. Tapi tolong pikirkan juga kalau apa yang akan kalian lakukan, ketika sudah lulus dokter, ketika mungkin pandemi ini sudah selesai, dan jumlah fasilitas kesehatan tidak berkembang sebagaimana laju lulusan dokter, apa yang akan kalian perbuat.